Apa itu Emosi?
Menurut Goleman (1995:411) emosi itu merujuk pada suatu perasaan atau pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dann psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Sebenarnya emosi itu terdapat 2 (dua) kelompok yakni emosi positif dan emosi negatif.
Pembahasan kali ini saya akan fokuskan mengenai emosi negatif. Alasannya adalah saya melihat dari beberapa kejadian yang menimpa orang lain ataupun diri saya pribadi bahwa emosi negatif ini terlalu sering mendominasi didalam kehidupan saat ini. Tuntutan zaman yang terus menerus berkembang menuntut dan memaksa tubuh, pikiran dan gaya hidup kita untuk dapat terus menyesuaikan dengan keadaan yang sedang terjadi. Atau saat ini kita telah diperbudak oleh penilaian orang lain atas hidup yang kita jalani. Atau hal lainnya yang membuat ita selalu tidak puas atas orang-orang terdekat ataupun orang lain dan bahkan atas diri kita sendiri.
Lalu, emosi, perasaan dan situasi terburuk apakah yang sedang kalian hadapi saat ini?
*Impatience (tidak sabaran)
*Uncertainty (kebimbangan)
*Anger (rasa marah)
*Suspicion (kecurigaan)
*Anxiety (rasa cemas)
*Guilt (rasa bersalah)
*Jealousy (rasa cemburu)
*Annoyance (rasa jengkel)
*Fear (rasa takut)
*Depression (depresi)
*Sadness (kesedihan)
*Hate (rasa benci)
*Suicide (ingin bunuh diri)
Tahu kah kalian emosi negatif bisa menguasai tubuh, jiwa dan raga kalian? Pernahkah kalian melupakan kehidupan, masa depan dan dosa-dosa kalian karena terbelenggu oleh emosi negatif yang sedang kalian rasakan? Hingga kalian hanya berpikir untuk segera menyelesaikannya dan berpikiran untuk mati. Bahkan tubuh kalian pun sudah tidak bisa merespon lagi apa itu rasa sakit seperti sayatan pisau dipergelangan tangan kalian, rasa pahit, mual, sakit atas racun yang mengalir di tenggorokkan, ataupun benturan kepala bahkan anggota tubuh kalian yang terhempas dari ketinggian. Ya, seseorang bisa saja kehilangan kendali atas tubuh dan pikirannya saat mereka sudah dikendalikan oleh emosi negatif yang ada didalam dirinya hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Menurut data yang dikeluarkan World Health Organization (WHO) pada 2012, sebanyak 804.000 kematian di dunia disebabkan oleh bunuh diri setiap tahunnya.Secara global, tingkat rasio bunuh diri adalah 11,4 orang per 100.000 penduduk. Bila dibandingkan dengan perempuan, laki-laki cenderung lebih rentan melakukan bunuh diri dengan rasio sebesar 15 orang per 100.000 penduduk. Data yang dikeluarkan oleh WHO pada 2012 juga memperkirakan terdapat 350 juta
orang mengalami depresi, baik ringan maupun berat. Hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) di Indonesia pada 2013, menunjukkan bahwa
prevalensi gangguan mental emosional —yang ditunjukkan dengan gejala
depresi dan kecemasan— adalah sebesar 6% untuk usia 15 tahun ke atas
atau sekitar 14 juta orang.
Sekarang, mari kita lihat bagaimana rasio bunuh diri yang terjadi di negara-negara ASEAN termasuk Indonesia.
Dari data diatas didapatkan bahwa Myanmar adalah negara ASEAN yang memiliki tingkat rasio bunuh diri tertinggi yakni 13.1 orang per 100.000 penduduk dan Filipina adalah negara ASEAN dengan tingkat rasio bunih diri terendah yakni dengan 2.9 orang per 100.000 penduduk. Sedangkan Indonesia menempati posisi 3 terbawah untuk rasio bunuh diri dengan 4.3 orang per 100.000 penduduk.
Ada satu fenomena yang menarik di Indonesia yakni Indonesia adalah satu-satunya negara di ASEAN yang tingkat bunuh diri tertingginya adalah perempuan, dengan rincian laki-laki sebesar 3,7 orang per 100.000 penduduk dan perempuan 4,9 orang per 100.000 penduduk.
Berdasarkan laporan mengenai bunuh diri perempuan di Indonesia umumnya terjadi pada kelompok ibu rumah tangga.Berdasarkan fenomena yang kita jumpai di Indonesia bunuh diri pada perempuan bisa disebabkan karena kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, tekanan sosial, dan kesulitan ekonomi. Sedangkan pada laki-laki diakibatkan oleh ketidakmampuan memenuhi peran-peran sosial yang secara tradisional dibebankan pada laki-laki seperti peran sebagai kepala keluarga. Keduanya memiliki persoalan serupa, lantaran dipicu oleh gejala depresi.
Lalu bagaimana sebenarnya emosi negatif itu bisa terjadi?
Lewis and Rosenblum (Stewart, at. al. 1985) mengutarakan proses terjadinya emosi melalui lima tahapan sebagai berikut.
1. Elicitors
Elicitors, yaitu adanya dorongan berupa situasi atau peristiwa.
2. Receptors
Receptors, yaitu aktivasi di pusat sistem syaraf, setelah indra menerima rangsangan dari luar. Dalam hal ini mata melihat perisstiwa kebakaran maka mata berfungsi sebagai indra penerima stimulus atau reseptor awal. Setelah mata menerima stimulus, ia melanjutkan rangsangan tersebut ke otak sebagai pusat sistem syaraf.
3. State
State, yaitu perubahan spesifik yang terjadi dalam aspek fisiologi. Dalam contoh kasus ini, setelah rangsangan mencapai otak mka otak menerjemahkan dan mengolah stimulus tersebut serta menyebarkan kembali stimulus yang telah diterjemahkan tadi ke berbagai bagian tubuh lain yang terkait sehingga terjadi perubahan fisiologis, seperti jantung berdetak keras, tekanan darah naik, badan tegang atau terjadi perubahan pada hormon lainnya.
4. Expression
Expression, yaitu terjadinya perubahan pada daerah yang dapat diamati, seperti pada wajah, tubuh, suara, atau tindakan yang terdorong oleh perubahan fisiologis. Contohnya otot wajah mengencang, tubuh tegang, mulut terbuka, dan suara keras berteriak atau bahkan lari kencang menjauh.
5. Experience
Experience, yaitu persepsi dan interpretasi individu oada kondisi emosionalnya. Dengan pengalaman individu dalam menerjemahkan dan maerasakan peasaannya sebagai rasa takut, stress, terkerjut, dan ngeri.
Berdasarkan penjelasan tahapan bagaimana emosi bisa terjadi dapat dikatakan bahwa emosi juga merupakan suatu bentuk komunikasi seseorang terhadap orang lain. Hanya saja tidak semua orang dapat menyampaikan emosinya secara benar atau bahkan berani dan orang lain sebagai pihak pendengar juga terkadang tidak bisa selalu peka. Dan hal ini lah yang bisa membuat emosi negatif yang ada di dalam diri seseorang dapat berkembang liar dan menjadi perasaan depresi. Depresi adalah situasi yang tidak bisa diremehkan oleh orang lain.
Depresi adalah suatu gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan suasana hati yang terus tertekan atau kehilangan minat dalam beraktivitas, menyebabkan penurunan yang signifikan dalam kualitas hidup sehari-hari. Kemungkinan penyebabnya bisa karena ketegangan yang bersumber dari kombinasi kondisi biologis, psikologis, dan sosial. Semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa faktor ini dapat menyebabkan perubahan dalam fungsi otak, termasuk aktivitas abnormal dari sirkuit saraf tertentu dalam otak.Rasa sedih atau terus kehilangan minat yang mencirikan depresi berat dapat menyebabkan berbagai gejala perilaku dan fisik. Ini mungkin termasuk perubahan dalam pola tidur, nafsu makan, tingkat energi, konsentrasi, perilaku sehari-hari, atau harga diri. Depresi juga dapat dikaitkan dengan pikiran bunuh diri.
Penting bagi kita semua sebagai penderita dan sebagai orang-orang terdekat dari si penderita mengetahui gejala-gejala dari "Depresi".
Selama periode tersebut gejala depresi terjadi hampir sepanjang hari dan hampir setiap hari dan bisa meliputi:
- Perasaan kesedihan, kekosongan atau ketidakbahagiaan.
- Ledakan kemarahan, frustrasi atau mudah tersinggung, bahkan atas hal-hal kecil.
- Hilangnya kesenangan atau ketertarikan dalam aktivitas sehari-hari, seperti sarapan pagi atau berbelanja.
- Kesulitan tidur, tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit (insomnia).
- Lelah sepanjang waktu dan kekurangan energi.
- Perubahan nafsu makan: sering kehilangan nafsu makan dan berat badan, atau kadang kala meningkatkan nafsu makan dan menambah berat badan.
- Restlessness (bosan tidak bisa diam), kegelisahan atau agitasi: ketidakmampuan untuk duduk diam atau khawatir berlebihan
- Lebih lambat dalam berbicara, berpikir atau gerakan tubuh.
- Perasaan bersalah atau tidak berharga, menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang tidak anda tanggung, terfiksasi atas kegagalan sebelumnya.
- Kesulitan berkonsentrasi, fokus, membuat keputusan dan mengingat sesuatu.
- Pikiran kematian, pikiran untuk bunuh diri dan / atau usaha atau bunuh diri.
- Masalah fisik yang tidak dapat dijelaskan, seperti sakit kepala.
Apakah depresi bisa disembuhkan? Kita tahu bahwa Tuhan YME selalu memberikan harapan dan kesempatan untuk membuat hamba-hambanya menjadi pribadi yang lebih baik. Berikut jenis-jenis PERAWATAN yang dapat meringankan si penderita.
- Pengobatan terdiri dari antidepresan
Penanganan
yang dianjurkan biasanya adalah pengobatan, terapi bicara, atau
gabungan keduanya. Semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa
penanganan semacam ini dapat menormalkan perubahan otak yang berhubungan
dengan depresi.
- Terapi
- Terapi perilaku kognitifTerapi bicara yang berfokus pada pengubahan pikiran negatif, perilaku, dan respons emosional terkait gangguan psikologi.
- Terapi perilaku Terapi yang berfokus pada pengubahan perilaku berbahaya terkait gangguan psikologis.
- Psikoterapi Pengobatan gangguan mental atau perilaku melalui terapi bicara.
-Obat
- Inhibitor Reuptake Serotonin Selektif (SSRI)
- Menghilangkan gejala depresi dan rasa cemas.
- Antidepresan
- Mencegah atau meredakan depresi dan meningkatkan mood.
- Ansioliti meredakan rasa cemas dan tegang. Dapat membantu tidur.
- Antipsikoti, mengurangi atau meningkatkan gejala kondisi kejiwaan tertentu.erapi elektrokonvulsif
-Terapi elektrokonvulsif
Mengobati penyakit mental dengan mengirimkan arus listrik melalui otak untuk memicu kejang. Juga dikenal sebagai terapi kejut.Mengobati penyakit mental dengan mengirimkan arus listrik melalui otak untuk memicu kejang. Juga dikenal sebagai terapi kejut.
Tenaga profesional di bidang masalah kejiwaan:
- Spesialis
-Psikolog klinis
-Mengobati gangguan mental, terutama dengan terapi bicara.
-Psikiater
-Mengobati gangguan mental, terutama dengan obat.
-Penyedia perawatan primer (PCP)
-Mencegah, mendiagnosis, dan mengobati penyakit.
-Dokter pengobatan darurat
-Mengobati pasien di bagian darurat.
Tidak mudah memang bagi seseoang yang sudah mengalami gejala-gejala depresi untuk berbagi emosi dan perasaan mereka. Hal tersebut juga tidak lepas pengaruh dari anggapan beberapa orang awam yang masih menganggap bahwa gangguan mental itu adalah suatu aib atau biasa orang menyebutnya "orang gila". Padahal pada tingkat tertentu depresi masih dapat disembuhkan tentunya dengan pengobatan yang dilakukan oleh para tenaga profesional di bidang kejiwaan serta dukungan dari orang-orang terdekat. Mulailah menjadi masyarakat yang peduli dan tidak berpikir dangkal dengan meremehkan gangguan mental seseorang, mereka tidak berbahaya, mereka butuh dukungan dan jangan jauhi mereka apalagi merisak atau memperparah kondisi mental si penderita.
Catatan: Jika Anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau
melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat
disarankan untuk menghubungi dan berdikusi dengan pihak terkait, seperti
psikolog atau psikiater maupun klinik kesehatan jiwa.
Berikut kontak hotline untuk "Depresi dan Keinginan Bunuh Diri"
- Hotline Kemenkes
telepon:
500-454 (atau disebut 500-ASA/harapan)
-Indopsycare
surel:
admin@indopsycare.com
-International Wellbeing Center
sms/WhatsApp:
081290529034
-Yayasan Pulih
e-counseling: pulihcounseling@gmail.com
-Save Yourselves
surel hi@saveyourselves.id
surel:
admin@indopsycare.com
-International Wellbeing Center
sms/WhatsApp:
081290529034
-Yayasan Pulih
e-counseling: pulihcounseling@gmail.com
-Save Yourselves
surel hi@saveyourselves.id



Tidak ada komentar:
Posting Komentar